This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 13 Maret 2021

Antara Manusia dan Jalan Menuju Kesuksesan

 


Kita sebagai manusia tentu tidak pernah lepas dari kegagalan. Segala sesuatu yang kita lakukan pasti ada yang namanya kegagalann dan keberhasilan. Tanpa kegagalan, kita tidak akan pernah bisa mencapai sebuah keberhasilan. Tentu semua itu melalui proses yang sangat panjang. Ada banyak rintangan yang harus kita lewati. Langkah demi langkah akan terlewati apabila dengan berusaha.

Lalu, apa sih kegagalan itu? , Bagaimana caranya agar terlewati kegagalan itu?

Nah, pernah tau tidak gambaran anak tangga dan jalan yang lurus tetapi menanjak?

Keduanya mempunyai perbedaan yang sangat banyak. Pastinya akan melalui sebuah proses juga. Sama juga dengan pola kehidupan manusia, semua didampingi  dari beberapa langkah. Namun, semua dapat terlewati tergantung kemauan kita berusaha sampai dimana letak titik kemampuan kita.

Untuk mencapai sebuah kesuksesan tersebut ada banyak sekali cara-cara yang harus kita lalui, misalnya, bekerja keras, ada kemauan mencoba, sikap bekerja sama. Dan itu masing-masing individu memiliki kemampuan berbeda, hasil yang diperoleh juga berbeda.

Jadi kita hidup sangat dianjurkan untuk mencoba dalam segala hal apapun, karena disitulah letak kemampuan kita sampai dimana.

Penulis: Davit Wirawan


Share:

Hidup Tanpa Kesasar

 


Sebelum guruku “hijrah” — ada tiga nasehatnya yang kupegang erat hingga kini, bahkan kusampaikan ke anak-anakku: (1) hidup tanpa seni akan kasar; (2) hidup tanpa ilmu bakal terlantar; dan (3) hidup tanpa agama niscaya kesasar!

Dan nasehat ketiga: “Hidup tanpa agama niscaya kesasar” ini yang ingin saya kupas, sedang nasehat ke (1) dan ke (2) tak perlu dibahas sebab sering kita saksikan dan buktikan sendiri dalam praktik kehidupan. Ya memang begitulah fakta sehari-hari. Hidup tanpa ilmu, terlantar. Hidup tanpa seni, kasar. Harap maklum.

Catatan ini soal nasehat ketiga. Maksud kalimat “hidup tanpa agama” — maknanya bahwa rujukan atau referensi sikap, perilaku dan tindakan orang –dalam hal apa saja– tidak berdasar ajaran – ajaran agama (Nya). Misalnya, sudah jelas ajaran (langit) agama menyatakan harus bersikap A, tetapi atas nama kebebasan berpendapat, atau atas nama kepentingan, ilmu pengetahuan, opini, hasil survei, kekuasaan, dan lain-lain seseorang tersebut (terpengaruh) akhirnya memilih bersikap B. Inilah yang kini marak dan muncul pro kontra di internal agama itu sendiri.

Agama itu logika. Jelas. Makanya terdapat level, ada tingkatan atau maqom-maqom (tempat) dalam agama. Ada yang belajar mulai dari bawah yaitu syariat (hukum) dulu, terus naik level tharikat (jalan), meningkat lagi ke hakikat (benar) dan terakhir makrifat (tahu). Atau sebaliknya, belajar dari makrifat dulu baru ke hakikat, tharikat dan lain-lain.

Semua (level) rujukannya tetap logika. Ketika nalar kita tidak nyampai pada sebuah level/maqom, berarti KEMAMPUAN kita tak sampai/belum mampu. Masih perlu belajar, dzikir dan banyak pikir lebih dalam lagi.

Iblis misalnya, ini makhluk Tuhan paling cerdas. Dulu ia paling dekat dengan Tuhan, karena bisa berdialog secara langsung dengan Tuhan, jin dan malakikat tidak mampu. Akan tetapi ketika Dia memerintahkan iblis, malaikat dan jin untuk hormat kepada Adam, hanya ia (iblis) yang menolak dengan berbagai pembenaran atas nama kepintaran dan kesombongan. Padahal, logika iblis –meskipun ia cerdas– mungkin saat itu belum sampai atau gak nyandak, sedang Dia punya maksud yang tak diketahui makluk-Nya. Menurut saya, Iblis ini tertipu oleh (logika) kecerdasannya sendiri. Coba seandainya dulu Iblis patuh atas perintah-Nya, barangkali kita sudah jadi penghuni syurga ya huahahahaha (ngakak) ..

Akhirnya saya kian yakin, bahwa orang-orang yang mengingkari (tidak mengamalkan) ajaran langit niscaya bakal kesasar hidupnya. Seperti Iblis. Sepintar apapun dia, sehebat manapun, sekaya siapapun ia bakal kesasar entah di dunia, apalagi di akhirat kelak.


Share:

Perilaku Dalam Sebuah Kehidupan

 


Membuka kembali buku ngaji bab akhlakul karimah dalam Islam, bahwa ternyata agama itu selain tuntunan, juga perilaku. Pengertian perilaku dalam agama Hindu, misalnya, disebut dharma atau laku, etika, tata krama, dan sopan santun. Semua tadi bukannya bualan tidak bermakna. Sekali lagi, yang dimaksud di sini adalah perilaku.

Perilaku dibagi 4 (empat) kategori yaitu perilaku hewan, perilaku manusia, perilaku jin dan perilaku malaikat. Menariknya semua perilaku di atas terdapat pada tubuh manusia. Lho, pantas saja jika ditemui manusia berperilaku seperti monyet, babi di satu sisi, tetapi ada juga yang lakunya semacam malaikat di sisi lain.

Nah, kemudian apa yang digambarkan, apa yang diperbuat oleh kita — di suatu hari kelak, suka atau tidak suka, mau atau tak mau, rela atau terpaksa, nyata atau tersembunyi, semua akan hadir di hadapan Tuhan, Ilahi Robbi.

Pada dasarnya, semua agama memiliki sudut pandang berbeda-beda dalam bertasawuf, atau berfilsafat. Dan semua pendapat syah-syah saja. Yang perlu dicatat di sini adalah: “JANGAN ADA PAKSAAN DALAM BERAGAMA.”


Share:

Pandemi sebagai Momen Transformasi Politik Demokratik

 


“Pandemi sebagai Momen Transformasi Politik Demokratik; Gerakan Warga, Partai Politik dan Negara”

Saat ini kita sedang menghadapi dua tantangan besar, pandemi dan polarisasi. Dua masalah yang mengakibatkan rusaknya kepercayaan terhadap sains, demokrasi dan kehidupan sosial.

Kita ribut-ribut sesama warga, tapi yang meraup keuntungan terbesar pada dasarnya para elite dan oligark. Pemerintah menjadi sasaran kritik tak ubahnya sansak penuh dosa dan pada saat bersamaan menjelma serupa arca yang dikuduskan.

Siapa yang dirugikan? Negara dan bangsa. Siapa yang diuntungkan? para oligark yang agenda-agendanya termuluskan.

Pilihan pendekatan yang tepat adalah mengedepankan sikap transparansi ketimbang sekresi. Polarasisasi perlu dicarikan jalan keluarnya dengan mempertebal partisipasi. Saluran dan lembaga demokrasi dibuka kembali untuk diakses oleh publik. Melibatkan publik seluas mungkin dalam proses perumusan kebijakan.

Atmosfir yang menghidupkan transparansi pada dasarnya memungkinkan semua orang terlibat, berpartisipasi dan berkolaborasi. Negara memainkan perannya, demikian juga warga. Partisipasi menjadi jembatannya.




Share:

Internet Sebuah Komunikasi Baru

 


SEJAK diperkenalkan di Universitas Indonesia pada kisaran 1988, internet terus berkembang dari waktu ke waktu di nusantara. Hingga sekarang, kekuatan jaringan teknologi ini sudah mapan. Bahkan, disparitas seluk­beluk teknisnya sudah tidak jauh berbeda dengan negara­negara maju.

Internet menjadikan alur informasi menjadi lugas, ringkas, dan mudah. Bayangkan, di masa lalu, seseorang yang ingin menghubungi sanak keluarga di luar kota, mesti memakai jaringan telepon interlokal. Kerap dijumpai, wartel­ wartel penuh di jam tertentu. Bandingkan dengan saat ini, di masa chatting bisa begitu gampang dijalankan sekadar melalui layar monitor dalam rumah. Baik PC, laptop, tablet, bahkan layar ponsel!

Masyarakat dapat mengakses informasi melalui internet secara bebas. Apalagi pemerintah dan swasta cukup gencar membuat banyak program

demi memasyarakatkannya. Sebagai contoh, Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dan Mobile PLIK (M­PLIK) yang diluncurkan pada akhir 2010. Sementara pada awal 2014 lalu, salah satu provider sempat mencanangkan gerakan “Indonesia Genggam Internet”.

Mengapa internet dianggap begitu penting oleh pemerintah? Karena, sarana ini bisa menjadi saluran sosialisasi dan informasi yang masif serta merata. Yang pada suatu titik, menjadi cermin kemajuan peradaban masyarakat.

Lantas, apa untungnya bagi pihak swasta? Sudah barang tentu terkait pengembangan bisnis. Meski demikian, harus diakui, pemahaman tentang internet yang sudah menjadi media informasi dan komunikasi anyar harus disikapi secara benar. Diposisikan sebagai tantangan zaman, bukan ancaman.

Secara tidak langsung, masyarakat “terbelah” dua, bila dilihat dari perspektif kelahiran media baru ini. Pertama, mereka yang disebut digital immigrants. Yakni, golongan yang hidup dan ber­anjak dewasa sebelum internet menjamah zaman. Mereka adalah orang­orang yang melakukan peralihan “kultur”. Dari yang sebelumnya tidak paham internet, menjadi paham (atau memaksa diri mengerti) dengan teknologi ini.

Kedua, mereka yang disebut digital natives. Yakni, golongan yang sejak kecil dan beranjak dewasa telah langsung akrab dengan teknologi ini. Mereka lahir di masa internet sudah menjadi sebuah keniscayaan zaman


Share:

Orang Jawa Harus Mengenal Tentang Aksara Jawa

 


Mengenal kebudayaan jawa hendaknya ditanamkan sejak dini, sehingga sebagai orang jawa harus tahu apa yang sudah diterapkan oleh para leluhur atau nenek moyang kita. Salah satunya yang harus kita ketahui yaitu mengenal tentang aksara jawa.

Apakah itu aksara jawa?

Aksara jawa merupakan salah satu aksara yang digunakan di Tanah Jawa ini, atau biasa disebut juga Aksara Hanacaraka.

Aksara Hancaraka sebenarnya diambil dari lima aksara pertama dalam aksara Jawa: “hana caraka”. Aksara Jawa sendiri berjumlah dua puluh aksara, yaitu:

 ha   na   ca   ra     ka

da   ta    sa   wa   la

pa   dha ja    ya   nya

ma  ga   ba   tha   nga

Tapi tahukah kalian asal mula aksara jawa? Berikut ini cerita tentang asal mulanya aksara jawa hanacaraka.

Dahulu kala, di sebuah kerajaan Medhangkamulan, bertahtalah seorang raja bernama Dewata Cengkar. Atau terkenal dengan nama Prabu Dewata Cengkar. Seorang raja yang sangat rakus, bengis, tamak, dan suka memakan daging manusia. Karena kegemarannya memakan daging manusia, maka secara bergilir rakyatnya pun dipaksa menyetor upeti berwujud manusia.

Mendengar kebengisan Prabu Dewata Cengkar, seorang pengembara bernama Aji Saka bermaksud menghentikan kebiasaan sang raja. Aji Saka mempunyai 2 orang abdi yang sangat setia bernama Dora dan Sembada. Dalam perjalanannya ke kerajaan Medhangkamulan,­ Aji Saka mengajak Dora, sedangkan Sembada tetap ditempat karena harus menjaga sebuah pusaka sakti milik Aji Saka. Aji Saka berpesan kepada Sembada, agar jangan sampai pusaka itu diberikan kepada siapapun kecuali aku (Aji Saka).

Setelah beberapa waktu, sampailah Aji Saka di kerajaan Medhangkamulan yang sepi. Rakyat di kerajaan itu takut keluar rumah, karena takut menjadi santapan lezat sang raja yang bengis. Aji Saka segera menuju istana dan menjumpai sang patih. Dia berkata kalau dirinya sanggup dan siap dijadikan santapan Prabu Dewata Cengkar.

Tibalah pada hari dimana Aji Saka akan dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar. Sebelum dimakan, sang prabu selalu mengabulkan 1 permintaan dari calon korban. Dan Aji Saka dengan tenang meminta tanah seluas syurban kepalanya. Mendengar permintaan Aji Saka, Prabu Dewata Cengkar hanya tertawa terbahak-bahak,­ dan langsung menyetujuinya. Maka dibukalah kain syurban penutup kepala Aji Saka.

Aji Saka memegang salah satu ujung syurban, sedangkan yang lain dipegang oleh Prabu Dewata Cengkar. Aneh, ternyata syurban itu seperti mengembang sehingga Dewata Cengkar harus berjalan mundur, mundur, dan mundur hingga sampai di tepi pantai selatan.

Begitu Dewata Cengkar sampai di tepi pantai selatan, Aji Saka dengan cepat mengibaskan syurbannya sehingga membungkus badan Dewata Cengkar, dan menendangnya hingga terjebur di laut selatan. Tiba-tiba saja tubuh Dewata Cengkar berubah menjadi buaya putih. “Karena engkau suka memakan daging manusia, maka engkau pantas menjadi buaya, dan tempat yang tepat untuk seekor buaya adalah di laut” demikian kata Aji Saka.

Sejak saat itu, Kerajaan Medhangkamulan dipimpin oleh Aji Saka. Seorng raja yang arif dan bijaksana. Tiba-tiba Aji Saka teringat akan pusaka saktinya, dan menyuruh Dora untuk mengambilnya. Namun Sembada tidak mau memberikan pusaka itu, karena teringat pesan Aji Saka. Maka terjadilah pertarungan yang hebar diantara Dora dan Sembada. Karena memiliki ilmu dan kesaktian yang seimbang, maka meninggallah Dora dan Sembada secara bersamaan.

Aji Saka yang teringat akan pesannya kepada Sembada, segera menyusul. Namun terlambat, karena sesampai di sana, kedua abdinya yang sangat setia itu sudah meninggal dunia. Untuk mengenang keduanya, maka Aji Saka mengabadikannya­ dalam sebuah Makna aksara jawa :

Ha Na Ca Ra Ka (ono utusan = ada utusan)

Da Ta Sa Wa La (padha kekerengan = saling berkelahi)

Pa Da Ja Ya Nya (padha digdayane = sama-sama saktinya)

Ma Ga Ba Tha Nga (padha nyunggi bathange = saling berpangku saat meninggal)

Baca Juga: Beberapa Kebudayaan Jawa Yang Wajib Dilestarikan


Share:

Baca Saja Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

 


Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak diantara 5º50`- 7º50` Lintang Selatan dan 104º 48`- 108º 48` Bujur Timur, dengan luas wilayah daratan 3.710.061,32 hektar. Masyarakat Jawa Barat dikenal sebagai masyarakat yang agamis, dengan kekayaan warisan budaya dan nilai-nilai luhur tradisional, serta memiliki prilaku sosial yang berfalsafah pada silih asih, silih asah, silih asuh, yang secara harfiah berarti saling mengasihi, saling memberi pengetahuan dan saling mengasuh diantara warga masyarakat.
Sebagian penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda. Selain itu, ada campuran Sunda dengan Jawa di pantai utara Cirebon serta sebagian kecil pesisir Indramayu. Mata pencaharian penduduk Jawa Barat yang utama adalah bertani. Bertaninya pun bermacam-macam. Ada yang bertani padi, sayur-sayuran, buah-buahan, dan bunga-bungaan. Selain itu, di daerah Jawa Barat juga banyak terdapat perkebunan teh, cengkih, tebu, dan kina.

Kebudayaan masyarakat Jawa Barat terpengaruh dari 4 sumber, yaitu Hindu/Budha, Islam, Jawa, dan kebudayaan barat. Ini dapat dilihat dari upacara yang disertai membakar kemenyan (pengaruh Hindu), doa-doa menurut agama Islam, pakaian pernikahan tanpa baju dan berbentuk wayang orang (pengaruh Jawa Tengah), dan pemberian kado serta hidangan prasmanan model Belanda.

Banyak yang harus kita pelajari dari kebudayaan yang ada di Jawa Barat. Jika kita merasa bahwa Budaya Jawa Barat merupakan bagian dari negara Indonesia, tidak ada salahnya mengenal Kebudayaan Jawa Barat. Provinsi jawa barat memiliki filosofi yang patut di acungi jempol, diantaranta adalah Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh. Ketiga filosofi tersebut merupakan filsafat hidup yang di pegang penduduk asli Jawa barat. Dan kebudayaan Jawa Barat lebih kita kenal sebagai Sunda yang ber ibukota di Bandung.Maksud dan arti filosofi tersebut adalah menimbulkan sifat dan sikap untuk untuk saling mengasuh , saling mengasihi dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesama. Masyarakat Jawa Barat memiliki keluhuran akal budi yang di landasi oleh filsafat tersebut. Agak berbeda dengan kebudayaan masyarakat lain di Nusantara, Masyarakat jawa barat yang berbahasa sunda sangat dipengaruhi budaya yang berakar pada nilai-nilai yang berasal dari tradisi masyarakat setempat. Dan dalam interaksi sosial, masyarakat di di jawa barat menganut falsafah seperti yang sudah di sebutkan tadi.

Rasa persaudaraan menciptakan keakraban masyarakat Sunda dengan lingkungan sehingga tampak dari bagaimana masyarakat Jawa Barat, khususnya yang tinggal di pedesaan, mereka memelihara kelestarian lingkungan dengan cara penuh kerja sama dengan warga setempat. Sehingga di provinsi Jawa Barat ini banyak muncul masyarakat yang atas inisiatifnya sendiri dapat memelihara lingkungan alam mereka.

Dalam kehidupan beragama, masyarakat di jawa barat relatif dikenal sebagai masyarakat yang sangat agamis dan relijius, dan memegang teguh nilai-nilai agama yang di anut di yakini yakni agama Islam. Sebagian besar penduduk jawa barat memeluk agama islam, disusul Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu, Budha, dan lainnya.

Sebagian besar budaya Jawa Barat didominasi suku Sunda dan adat tradisionalnya yang penuh khasanah Bumi Pasundan menjadi cermin kebudayaan di jawa barat. Untuk melestarikan budaya Jawa Barat, pemerintah daerah menetapkan 12 desa budaya, yakni desa khas yang di tata untuk kepentingan melestarikan budaya dalam bentuk adat atau rumah adat.

Macam macam seni dan budaya masyarakat Sunda, Jawa Barat :

1. Pakaian Adat/Khas jawa Barat
Suku sunda mempunyai pakaian adat/tradisional yang sangat terkenal, yaitu kebayaKebayamerupakan pakaian khas Jawa Barat yang sangat terkenal, sehingga kini kebaya bukan hanya menjadi pakaian khas sunda saja tetapi sudah menjadi pakaian adat nasinal. Itu merupakan suatu bukti bahwa kebudayaan daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional.

2. Kesenian Khas Jawa Barat

a. Wayang Golek
Wayang Golek merupakan kesenian tradisional dari Jawa Barat yaitu kesenian yang menapilkan dan membawakan alur sebuah cerita yang bersejarah. Wayang Golek ini menampilkan golek yaitu semacam boneka yang terbuat dari kayu yang memerankan tokoh tertentu dalam cerita pawayangan serta dimainkan oleh seorang Dalang dan diiringi oleh nyanyian serta iringan musik tradisional Jawa Barat yang disebut dengan degung.

b. Jaipong
Jaipong merupakan tarian tradisional dari Jawa Barat, yang biasanya menampilkan penari dengan menggunakan pakaian khas Jawa Barat yang disebut kebaya, serta diiringi musik tradisional Jawa Bart yang disebut Musik Jaipong. Jaipong ini biasanya dimainkan oleh satu orang atau sekelompok penari yang menarikan berakan – gerakan khas tari jaipong.
 
c. Degung
Degung merupakan sebuah kesenian sunda yang biasanya dimainkan pada acara hajatan. Kesenian degung ini digunakan sebagai musik pengiring/pengantar. Degung ini merupakan gabungan dari peralatan musik khas Jawa Barat yaitu, gendang, goong, kempul, saron, bonang, kacapi, suling, rebab, dan sebagainya. Degung merupakan salah-satu kesenian yang paling populer di Jawa Barat, karena iringan musik degung ini selalu digunakan dalam setiap acara hajatan yang masih menganut adat tradisional, selain itu musik degung juga digunakan sebgai musik pengiring hampir pada setiap pertunjukan seni tradisional Jawa Barat lainnya.
 
d. Rampak Gendang
Rampak Gendang merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Rampak Gendang ini adalah pemainan menabuh gendang secara bersama-sama dengan menggunakan irama tertentu serta menggunakan cara-cara tertentu untuk melakukannya, pada umumnya dimainkan oleh lebih dari empat orang yang telah mempunyai keahlian khusus dalam menabuh gendang. Biasanya rampak gendang ini diadakan pada acara pesta atau pada acara ritual.
e. Calung
Di daerah Jawa Barat terdapat kesenian yang disebut Calung, calung ini adalah kesenian yang dibawakan dengan cara memukul/mengetuk bambu yang telah dipotong dan dibentuk sedemikian rupa dengan pemukul/pentungan kecil sehingga menghasilkan nada-nada yang khas. Biasanya calung ini ditampilkan dengan dibawakan oleh 5 orang atau lebih. Calung ini biasanya digunakan sebagai pengiring nyanyian sunda atau pengiring dalam lawakan.
f. Pencak Silat
Pencak silat merupakan kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yang kini sudah menjadi kesenian Nasional.Pada awalnya pencak Silat ini merupakan tarian yang menggunakan gerakan tertentu yang gerakannya itu mirip dengan gerakan bela diri. Pada umumnya pencak silat ini dibawakan oleh dua orang atau lebih, dengan memakai pakaian yang serba hitam, menggunakan ikat pinggang dari bahan kain yang diikatkan dipinggang, serta memakai ikat kepala dari bahan kain yang orang sunda menyebutnya Iket.Pada umumnya kesenian pencaksilat ini ditampilkan dengan diiringi oleh musik yang disebut gendang penca, yaitu musik pengiring yang alat musiknya menggunakan gendang dan terompet.
g. Sisingaan
Sisingaan merupakan kesenian yang berasal dari daerah Subang Jawa barat. Kesenian ini ditampilkan dengan cara menggotong patung yang berbentuk seperti singa yang ditunggangi oleh anak kecil dan digotong oleh empat orang serta diiringi oleh tabuhan gendang dan terompet. Kesenian ini biasanya ditampilkan pada acara peringatan hari-hari bersejarah.
h. Kuda Lumping
Kuda Lumping merupakan kesenian yang beda dari yang lain, karena dimainkan dengan cara mengundang roh halus sehingga orang yang akan memainkannya seperti kesurupan. Kesenian ini dimainkan dengan cara orang yang sudah kesurupan itu menunggangi kayu yang dibentuk seperti kuda serta diringi dengan tabuhan gendang dan terompet. Keanehan kesenian ini adalah orang yang memerankannya akan mampu memakan kaca serta rumput. Selain itu orang yang memerankannya akan dicambuk seperti halnya menyambuk kuda. Biasanya kesenian ini dipimpin oleh seorang pawang.Kesenian ini merupakan kesenian yang dalam memainkannya membutuhkan keahlian yang sangat husus, karena merupakan kesenian yang cukup berbahaya.
i. Bajidoran
Bajidoran merupakan sebuah kesenian yang dalam memainkannya hampir sama dengan permainan musik modern, cuma lagu yang dialunkan merupakan lagu tradisional atau lagu daerah Jawa Barat serta alat-alat musik yang digunakannya adalah alat-alat musik tradisional Jawa Barat seperti Gendang, Goong, Saron, Bonang, Kacapi, Rebab, Jenglong serta Terompet. Bajidoran ini biasanya ditampilkan dalam sebuah panggung dalam acara pementasan atau acara pesta.
j. Cianjuran
Cianjuran merupakan kesenian khas Jawa Barat. Kesenian ini menampilkan nyanyian yang dibawakan oleh seorang penyanyi, lagu yang dibawakannya pun merupakan lagu khas Jawa Barat. Masyarakat Jawa Barat memberikan nama lain untuk nyanyian Cianjuran ini yaitu Mamaos yang artinya bernyanyi.
k. Kacapi Suling
Kacapi suling adalah kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yaitu permainan alat musik tradisional yang hanya menggunakan Kacapi dan Suling. Kacapi suling ini biasanya digunakan untuk mengiringi nyanyian sunda yang pada umumnya nyanyian atau lagunya dibawakan oleh seorang penyanyi perempuan, yang dalam bahasa sunda disebut Sinden.
l. Reog
Di daerah Jawa Barat terdapat kesenian yang disebut Reog, kesenian ini pada umumnya ditampilkan dengan bodoran, serta diiringi dengan musik tradisional yang disebut Calung. Kesenian ini biasanya dimainkan oleh beberapa orang yang mempunyai bakat melawak dan berbakat seni. Kesenian ini ditampilkan dengan membawakan sebuah alur cerita yang kebanyakan cerita yang dibawakan adalah cerita lucu atau lelucon.
3.Rumah Adat
Salah satu contoh rumah adat Jawa Barat dinamakan Keraton Kasepuhan Cirebon yang di depannya terdapat pintu gerbang. Keraton Kasepuhan Cirebon ini terdiri dari 4 ruangan. Jinem atau pendopo untuk para pengawal/penjaga keselamatan Sultan. Pringgodani, tempat Sultan memberi perintah kepada adipati. Prabayasa, tempat menerima tamu istimewa Sultan dan Panembahan, ruang kerja dan istirahat Sultan.


Share:

Kebudayaan Jawa Tengah Yang Wajib Dilestarikan

 


Jawa Tengah adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa. Provinsi ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat di sebelah barat, Samudra Hindia dan Daerah Istimewa Yogyakarta  di sebelah selatan, Jawa Timur di sebelah timur, dan Laut Jawa di sebelah utara. Luas wilayah nya 32.548 km², atau sekitar 25,04% dari luas pulau Jawa. Provinsi Jawa Tengah juga meliputi Pulau Nusakambangan di sebelah selatan (dekat dengan perbatasan Jawa Barat), serta Kepulauan Karimun Jawa di Laut Jawa.
Jawa Tengah secara geografis dan budaya kadang juga mencakup wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Jawa Tengah dikenal sebagai “jantung” budaya Jawa. Meskipun demikian di provinsi ini ada pula suku bangsa lain yang memiliki budaya yang berbeda dengan suku Jawa seperti suku Sunda di daerah perbatasan dengan Jawa Barat. Selain ada pula warga Tionghoa-Indonesia, Arab-Indonesia dan India-Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi ini.

1. Rumah Adat

Rumah joglo merupakan rumah adat Jawa Tengah yang dibangun berlandaskan keyakinan atau filosofi jawa. Penyebutan rumah joglo terjadi akibat bentuk atap rumah joglo yang menyerupai dua gunung atau taJUG LOro (JUGLO) dan berkembang penyebutannya menjadi Joglo. Penggunaan gunung diyakini oleh masyarakat Jawa saat itu sebagai tempat suci atau rumah para dewa.
Tidak hanya di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta pun memiliki rumah joglo dengan cirri khas daerahnya masing-masing. Ciri khas rumah joglo secara umum yaitu memiliki pekarangan yang luas dan lapang tanpa dibatasi oleh sekat, bangunannya berbentuk persegi panjang, memiliki tiga pintu depan dan terdapat tiang yang disebut Soko Guru atau Saka Guru. Denah utama rumah Joglo terdiri dari tiga bagian utama yaitu, Pendhapa atau Pendopo, Pringgitan dan Omah Dalem atau Omah Njero dan bagian tambahan lainnya. Berikut ini skema sederhana rumah Joglo.
Selain rumah Joglo terdapat pula rumah adat lainnya yang terdapat di Jawa Tengah yang bentuknya tidak kalah menarik dan bersejarah. Sejarah jawa menyatakan bahwa rumah adat dari Jawa Tengah diklasifikan menjadi lima kategori, yaitu Joglo (Tikelan), Tajug (Tarub), Limasan, Kampung dan Panggang Pe. Perbedaan dari kelima rumah adat ini dapat dilihat pada tabel berikut.

2. Pakaian Adat

Ada banyak ragam jenis busana adat Jawa Tengah, Pakaian resmi adat Jawa Tengah bernama Jawi Jangkep dan Kebaya. Jawi jangkep adalah pakaian pria yang terdiri atas beberapa kelengkapan dan umumnya digunakan untuk keperluan adat. Jawi jangkep terdiri dari atasan berupa baju beskap dengan motif bunga, bawahan berupa kain jarik yang dililitkan di pinggang, destar berupa blangkon, serta aksesoris lainnya berupa keris dan cemila (alas kaki). Berikut ini adalah gambar seorang pria yang mengenakan pakaian Jawi Jangkep tersebut. Sementara kebaya adalah pakaian adat wanita Jawa yang terdiri dari atasan berupa kebaya, kemben, stagen, kain tapih pinjung, konde, serta beragam aksesoris seperti cincin, subang, kalung, gelang, serta kipas. Dalam praktiknya, penggunaan pakaian ini diatur sedemikian rupa sesuai dengan strata sosial si pemakainya.
Kebaya
Kebaya umumnya dibuat dari bahan kain katun, beludru, sutera brokat,dan nilon yang berwarna cerah seperti putih, merah, kuning, hijau, biru, dan sebagainya. Untuk modelnya sendiri ada kebaya panjang dan kebaya pendek. Kebaya panjang bagian bawahnya mencapai lutut, sementara kebaya pendek bagian bawahnya hanya mencapai pinggang. Di bagian depan sekitar dada, terdapat kain persegi panjang yang berfungsi sebagai penyambung kedua sisinya.
Kain Tapih Pinjung 
Sebagai bawahan kebaya, kain tapih pinjung atau kain sinjang jarik bermotif batik digunakan dengan cara melilitkannya di pinggang dari kiri ke kanan. Untuk menguatkan lilitan, digunakan stagen yang dililitkan di perut sampai beberapa kali sesuai panjang stagennya. Agar tidak terlihat dari luar, stagen kemudian ditutupi dengan selendang pelangi berwarna cerah.

3. Tari-tarian Tradisional

Tari sering disebut juga ”beksa”, kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”, kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh. Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerak-gerak organ tubuh yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif, Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. Tari mengalami kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit khususnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Surakarta merupakan pusat seni tari. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah, terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungjawabkan. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta.
Berikut ini  beberapa tarian tradisional dari provinsi Jawa Tengah
1. Bedhaya Ketawang
Bedhaya Ketawang adalah tarian sakral yang rutin dibawakan dalam istana sultan Jawa (Keraton Yogyakarta dan Keraton Solo). Disebut juga tarian langit, bedhaya ketawang merupakan suatu upacara yang berupa tarian dengan tujuan pemujaan dan persembahan kepada Sang Pencipta.
Pada awal mulanya di Keraton Surakarta tarian ini hanya diperagakan oleh tujuh wanita saja. Namun karena tarian ini dianggap tarian khusus yang amat sacral, jumlah penarik kemudian ditambah menjadi sembilan orang. Sembilan penari terdiri dari delapan putra-putri yang masih ada hubungan darah dan kekerabatan dari keraton serta seorang penari gaib yag dipercaya sebagai sosok Nyai Roro Kidul.
Tarian ini diciptakan oleh Raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan latar belakang mitos percintaan raja Mataram pertama (Panembahan Senopati) dengan Kanjeng Ratu Kidul (penguasa laut selatan). Sebagai tarian sakral, terdapat beberapa aturan dan upacara ritus yang harus dijalankan oleh keraton juga para penari.
Bedhaya ketawang bisa dimainkan sekitar 5,5 jam dan berlangsung hingga pukul 01.00 pagi. Hadirin yang terpilih untuk melihat atau menyaksikan tarian ini pun harus dalam keadaan khusuk, semedi dan hening. Artinya hadirin tidak boleh berbicara atau makan, dan hanya boleh diam dan menyaksikan gerakan demi gerakan sang penari. Tarian Bedhaya Ketawang besar hanya di lakukan setiap 8 tahun sekali atau sewindu sekali. Sementara, Tarian Bedhaya Ketawang kecil dilakukan pada saat penobatan raja atau sultan, pernikahan salah satu anggota keraton yang ditambah simbol-simbol.
Dalam perkembangannya timbulah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari gaya Surakarta. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans), yang termasuk seni tari bermutu tinggi, di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacam-macam tari daerah setempat. Tari semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional, seperti: Dadung Ngawuk, Kuda Kepang, Incling, Dolalak, Tayuban, Jelantur, Ebeg, Ketek Ogleng, Barongan, Sintren, Lengger, dll.
Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Jadi lebih bebas, lebih perseorangan. Dalam seni tari dapat dibedakan menjadi klasik, tradisional dan garapan baru. Beberapa jenis tari yang ada antara lain:

1. Tari Klasik

-Tari Bedhaya:

Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit. Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam, tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya, Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas, maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang, termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral, dengan nama peranan sebagai berikut:
  1. Endhel Pojok
  2. Batak
  3.  Gulu
  4. Dhada
  5. Buncit
  6. Endhel Apit Ngajeng
  7. Endhel Apit Wuri
  8. Endhel Weton Ngajeng
  9. Endhel Weton Wuri

Berbagai jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan:

  • Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit
  • Bedhaya Pangkur lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit

Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul, khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang disajikan di luar Kraton, juga sering disajikan pada upacara keperluan jahat di lingkungan Istana. Di samping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang mempunyai tema kepahlawanan dan bersifat monumental.

Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu adanya inovasi secara matang, dengan tidak mengurangi ciri dan bobotnya.

Contoh Bedhaya garapan baru:

  • Bedhaya La la lama tarian 15 menit
  • Bedhaya To lu lama tarian 12 menit
  • Bedhaya Alok lama tarian 15 menit

– Tari Srimpi:

Tari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air, api, angin dan bumi/tanah, yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak, Gulu, Dhada dan Buncit. Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Seperti Bedhaya, tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi.
Contoh Srimpi hasil garapan baru:
  • Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit
  • Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit

Beberapa contoh tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi:

a. Beksan Gambyong:

Berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik, akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja. Oleh Istana tari itu diubah menjadi tari Gambyong.

Selain sebagai hiburan, tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan. Adapun ciri-ciri Tari ini:

  • Jumlah penari seorang putri atau lebih
  • Memakai jarit wiron
  • Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin
  • Tanpa jamang melainkan memakai sanggul/gelung
  • Dalam menari boleh dengan sindenan (menyanyi) atau tidak.

b. Beksan Wireng: 

Berasal dari kata Wira (perwira) dan ‘Aeng’ yaitu prajurit yang unggul, yang ‘aeng’, yang ‘linuwih’. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang. Ciri-ciri tarian ini:
  • Ditarikan oleh dua orang putra/i
  • Bentuk tariannya sama
  • Tidak mengambil suatu cerita
  • Tidak menggunakan ontowacono (dialog)
  • Bentuk pakaiannya sama
  • Perangnya tanding, artinya tidak menggunakan gending sampak/srepeg, hanya iramanya/temponya kendho/kenceng
  • Gending satu atau dua, artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang
  • Tidak ada yang kalah/menang atau mati.

c. Tari Pethilan

Hampir sama dengan Tari Wireng. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan/ bagian dari ceritera pewayangan.

Ciri-cirinya:

  • Tari boleh sama, boleh tidak
  • Menggunakan ontowacono (dialog)
  • Pakaian tidak sama, kecuali pada lakon kembar
  • Ada yang kalah/menang atau mati
  • Perang mengguanakan gendhing srepeg, sampak, gangsaran
  • Memetik dari suatu cerita lakon.

Contoh dari Pethilan :

Tarian Bambang Cakil
  • Bambangan Cakil
  • Hanila
  • Prahasta, dll.

d. Tari Golek

Tari ini berasal dari Yogyakarta. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq, agar lebih cantik dan menarik. Macam-macamnya:
  1. Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang
  2. Golek Montro iringan Gendhing Montro
  3. Golek Surungdayung iringan Gendhing Ladrang Surungdayung, dll.

e. Tari Bondan : Tari ini dibagi menjadi:

  1. Bondan Cindogo
  2. Bondan Mardisiwi
  3. Bondan Pegunungan/Tani.
Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira, mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. Ciri pakaiannya:
  1. Memakai kain Wiron
  2. Memakai Jamang
  3. Memakai baju kotang
  4. Menggendong boneka, memanggul payung
  5. Membawa kendhi (dahulu), sekarang jarang.

Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap. Ciri pakaiannya:

  • Mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai capingdan membawa alat pertanian.
  • Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu, sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok. Bentuk tariannya ; pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi.

f. Tari Topeng :

Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit, topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog, Menak Panji. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Sunan Kalijaga yang menggunakannya sebagai penyebaran agama. Beliau menciptakan 9 jenis topeng, yaitu topeng Panji Ksatrian, Condrokirono, Gunung sari, Handoko, Raton, Klono, Denowo, Benco(Tembem), Turas (Penthul). Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada kepala.

2. Tari Tradisional

Selain tari-tari klasik, di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah tertentu. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Beberapa contoh kesenian tradisional:

a. Tari Dolalak, di Purworejo

Pertunjukan ini dilakukan oleh beberapa orang penari yang berpakaian menyerupai pakaian prajurit Belanda atau Perancis tempo dulu dan diiringi dengan alat-alat bunyi-bunyian terdiri dari kentrung, rebana, kendang, kencer, dllnya. Menurut cerita, kesenian ini timbul pada masa berkobarnya perang Aceh di jaman Belanda yang kemudian meluas ke daerah lain.

b. Patolan (Prisenan), di Rembang

Sejenis olahraga gulat rakyat yang dimainkan oleh dua orang pegulat dipimpin oleh dua orang Gelandang (wasit) dari masing-masing pihak. Pertunjukan ini diadakan sebagai olah raga dan sekaligus hiburan di waktu senggang pada sore dan malam hari terutama di kala terang bulan purnama. Lokasinya berada di tempat-tempat yang berpasir di tepi pantai. Seni gulat rakyat ini berkembang di kalangan pelajar terutama di pantai antara kecamatan Pandagan, Kragan, Bulu sampai ke Tuban, Jawa Timur.

c. Blora.

barongan-blora

Daerah ini terkenal dengan atraksi kesenian Kuda Kepang, Barongan dan Wayang Krucil(sejenis wayang kulit terbuat dari kayu).

d. Pekalongan

Di daerah Pekalongan terdapat kesenian Kuntulan dan Sintren. Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug, terbang, dllnya. Sedangkan Sintren adalah sebuah tari khas yang magis animistis yang terdapat selain di Pekalongan juga di Batang dan Tegal. Kesenian ini menampilkan seorang gadis yang menari dalam keadaan tidak sadarkan diri, sebelum tarian dimulai gadis menari tersebut dengan tangan terikat dimasukkan ke dalam tempat tertutup bersama peralatan bersolek, kemudian selang beberapa lama ia telah selesai berdandan dan siap untuk menari. Atraksi ini dapat disaksikan pada waktu malam bulan purnama setelah panen.

e. Ebeg dan Begalan.

Kesenian ini berkembang di Cilacap. Pemain Ebeg ini terdiri dari beberapa orang wanita atau pria dengan menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu (kepang), serta diiringi dengan bunyi-bunyian tertentu. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang pawang (dukun) yang dapat membuat pemain dalam keadaan tidak sadar.
Begalan adalah salah satu acara dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas. Kesenian ini hidup di daerah Bangumas pada umumnya juga terdapat di Cilacap, Purbalingga maupun di daerah di luar Kabupaten Banyumas. Yang bersifat khas Banyumas antara lain Calung, Begalan dan Dalang Jemblung.


Share:

Arsip Blog

Definition List

Unordered List

Support